Tuesday, April 2, 2013
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain. Oleh sebab itu manusia membutuhkan sarana untuk bisa berinteraksi dengan orang lain untuk mencapai tujuannya, salah satunya adalah komunikasi. Komunikasi dapat dipahami sebagai proses penyampaian pesan, ide, atau informasi kepada orang lain dengan menggunakan sarana tertentu guna mempengaruhi atau mengubah prilaku penerima pesan.
Dalam proses komunikasi, hal yang mutlak diperhatikan adalah tingkat keefektifan komunikasi. Komunikasi dikatakan efektif apabila makna yang ada pada komunikator sama dengan makna yang ditangkap oleh komunikan. Namun makna pesan itu sangat tergantung pada lingkungan di mana pihak yang terlibat dalam proses komunikasi tinggal dan dibesarkan. Karena pada setiap lingkungannya, baik komunikator maupun komunikan memliki gaya hidup sendiri sesuai dengan lingkungan yang ia tinggal yaitu budaya.
Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Budaya menurut E.B. Taylor, Bapak Antropologi budaya adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan atau kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh anggota-anggota suatu masyarakat.
Dalam perkembangan komunikasi sendiri memang sangat pesat. Jika pada abad ke-17 atau 18 komunikasi dilakukan dengan menggunakan surat-menyurat melalui kantor pos, maka pada ke-20 ini komunikasi sudah dipengaruhi oleh teknologi. Teknologi yang terus berkembang ini pada awalnya berupa telepon.
Kemudian mulai beralih ke hal-hal seperti adanya radio, mesin fax, dan tanpa melupakan jasa komunikasi yang bernama pos. Semakin bertambahnya umur, perkembangan teknologi komunikasi semakin canggih. Dari macam-macam komunikasi yang ada, sekarang kita mengenal komunikasi cyber.
Saat ini sebuah komunikasi telah hadir dengan perangkat lunak yang bernama internet dan didukung alat-alat yang memadainya. Teknologi ini akhirnya bisa terlihat pada penggambarannya, seperti, e-mail, facebook, twetter, dan lain-lainnya. Itulah teknologi komunikasi yang tergambar saat ini.
Dalam komunkasi, manusia membutuhkan alat yang berupa bahasa. Dari zaman dahulu, manusia mempunyai bahasa, baik itu bahasa lisan atau bahasa tubuh. Untuk berinteraksi dengan orang lain. Untuk itu, muncullah beragam-macam bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi.
Di Indonesia saja, bahasa di setiap daerah berbeda-beda, karena berbeda daerah dan suku, maka berbeda pula juga bahasanya. Akan tetapi Negara Indonesia setelah merdeka memiliki bahasa persatuan/nasional yaitu bahasa Indonesia yang bertujuan untuk melakukan komunikasi yang efektif.
Dalam kodratnya, manusia merupakan makhluk social yang mana dituntut untuk dapat saling bekerjasama dengan orang lain, baik kepentingan pribadi atau orang lain untuk terciptanya kehidupan yang aman dan damai. Seperti pendapat dari Aristoteles mengenai manusia adlah makhluk social menyebutkan bahwa makhluk social disebut juga sebagai zoon politicon. Maksudnya manusia dikodratkan untuk hidup secara bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain.
Selain itu, DR. Johannes garang menyebutkan bahwa yang disebut sebagai makhluk social adalah makhluk yang hidupnya berkelompok dan makhluk tersebut tidak dapat hidup secara individu ata sendiri.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk social yang dalam kehidupannya tidak dapat lepas dari interaksi dengan orang lain dan manusia bukan makhluk yang individu dan menyendiri.
Komunikasi dan budaya sendiri tidak dapat dipisahkan. William H. Haviland menjelaskan Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
Untuk mempelajari, memiliki peraturan dan norma dibutuhkan komunikasi. Komunikasi pun membutuhkan norma-norma yang harus dipelajari dan dimiliki bersama.
Dalam komunikasi ada banyak tantangan dan hambatan yang terjadi, mengingat masyarakat setiap bangsa mempunyai symbol dan bahasa verbal maupun nonverbal yang berbeda-beda. Seperti yang dijelaskan Chaney dan Martin (2004). Hambatan komunkasi (communication barner) adalah segala sesuatu yang menghalangi terjadinya komunikasi yang efektif.
Misalnya, kebiasaan menganggukan kepala. Di Indonesia atau di Negara-negara lain seperti Amerika, anggukan kepala diartikan sebagai symbol “iya” atau “mengerti”, sementara di Jepang, anggukan kepala diartikan sebagai “saya mendengarkan”.
Contoh lainnya bisa dilihat di Indonesia sendiri, bagaimana logat atau ciri khas orang batak ketika berbicara yang terkesan keras seperti orang yang sedang “marah-marah” dan itu dianggap biasa di lingkungannya, tetapi jika orang Batak itu singgah atau menetap di Bandung yang notabene orang Sunda yang memiliki ciri khas ketika berbicara “halus” pasti kita tahu apa yang akan terjadi nanti.
Terlepas dari hal itu manusia dari berbagai suku, bangsa, dan bahasa kemungkinan akan bertemu dan berinteraksi satu sama lain, penting untuk kita melangsungkan komunikasi antar budaya yang efektif. Terlebih dahulu, tentunya kita harus memahami bermacam-macam norma dan aturan-aturan yang berlaku di tempat asal teman bicara kita, suapaya terhindar dari kesalahpahaman yang merugikan.
Dalam proses komunikasi, hal yang mutlak diperhatikan adalah tingkat keefektifan komunikasi. Komunikasi dikatakan efektif apabila makna yang ada pada komunikator sama dengan makna yang ditangkap oleh komunikan. Namun makna pesan itu sangat tergantung pada lingkungan di mana pihak yang terlibat dalam proses komunikasi tinggal dan dibesarkan. Karena pada setiap lingkungannya, baik komunikator maupun komunikan memliki gaya hidup sendiri sesuai dengan lingkungan yang ia tinggal yaitu budaya.
Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Budaya menurut E.B. Taylor, Bapak Antropologi budaya adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan atau kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh anggota-anggota suatu masyarakat.
Dalam perkembangan komunikasi sendiri memang sangat pesat. Jika pada abad ke-17 atau 18 komunikasi dilakukan dengan menggunakan surat-menyurat melalui kantor pos, maka pada ke-20 ini komunikasi sudah dipengaruhi oleh teknologi. Teknologi yang terus berkembang ini pada awalnya berupa telepon.
Kemudian mulai beralih ke hal-hal seperti adanya radio, mesin fax, dan tanpa melupakan jasa komunikasi yang bernama pos. Semakin bertambahnya umur, perkembangan teknologi komunikasi semakin canggih. Dari macam-macam komunikasi yang ada, sekarang kita mengenal komunikasi cyber.
Saat ini sebuah komunikasi telah hadir dengan perangkat lunak yang bernama internet dan didukung alat-alat yang memadainya. Teknologi ini akhirnya bisa terlihat pada penggambarannya, seperti, e-mail, facebook, twetter, dan lain-lainnya. Itulah teknologi komunikasi yang tergambar saat ini.
Dalam komunkasi, manusia membutuhkan alat yang berupa bahasa. Dari zaman dahulu, manusia mempunyai bahasa, baik itu bahasa lisan atau bahasa tubuh. Untuk berinteraksi dengan orang lain. Untuk itu, muncullah beragam-macam bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi.
Di Indonesia saja, bahasa di setiap daerah berbeda-beda, karena berbeda daerah dan suku, maka berbeda pula juga bahasanya. Akan tetapi Negara Indonesia setelah merdeka memiliki bahasa persatuan/nasional yaitu bahasa Indonesia yang bertujuan untuk melakukan komunikasi yang efektif.
Dalam kodratnya, manusia merupakan makhluk social yang mana dituntut untuk dapat saling bekerjasama dengan orang lain, baik kepentingan pribadi atau orang lain untuk terciptanya kehidupan yang aman dan damai. Seperti pendapat dari Aristoteles mengenai manusia adlah makhluk social menyebutkan bahwa makhluk social disebut juga sebagai zoon politicon. Maksudnya manusia dikodratkan untuk hidup secara bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain.
Selain itu, DR. Johannes garang menyebutkan bahwa yang disebut sebagai makhluk social adalah makhluk yang hidupnya berkelompok dan makhluk tersebut tidak dapat hidup secara individu ata sendiri.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk social yang dalam kehidupannya tidak dapat lepas dari interaksi dengan orang lain dan manusia bukan makhluk yang individu dan menyendiri.
Komunikasi dan budaya sendiri tidak dapat dipisahkan. William H. Haviland menjelaskan Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
Untuk mempelajari, memiliki peraturan dan norma dibutuhkan komunikasi. Komunikasi pun membutuhkan norma-norma yang harus dipelajari dan dimiliki bersama.
Dalam komunikasi ada banyak tantangan dan hambatan yang terjadi, mengingat masyarakat setiap bangsa mempunyai symbol dan bahasa verbal maupun nonverbal yang berbeda-beda. Seperti yang dijelaskan Chaney dan Martin (2004). Hambatan komunkasi (communication barner) adalah segala sesuatu yang menghalangi terjadinya komunikasi yang efektif.
Misalnya, kebiasaan menganggukan kepala. Di Indonesia atau di Negara-negara lain seperti Amerika, anggukan kepala diartikan sebagai symbol “iya” atau “mengerti”, sementara di Jepang, anggukan kepala diartikan sebagai “saya mendengarkan”.
Contoh lainnya bisa dilihat di Indonesia sendiri, bagaimana logat atau ciri khas orang batak ketika berbicara yang terkesan keras seperti orang yang sedang “marah-marah” dan itu dianggap biasa di lingkungannya, tetapi jika orang Batak itu singgah atau menetap di Bandung yang notabene orang Sunda yang memiliki ciri khas ketika berbicara “halus” pasti kita tahu apa yang akan terjadi nanti.
Terlepas dari hal itu manusia dari berbagai suku, bangsa, dan bahasa kemungkinan akan bertemu dan berinteraksi satu sama lain, penting untuk kita melangsungkan komunikasi antar budaya yang efektif. Terlebih dahulu, tentunya kita harus memahami bermacam-macam norma dan aturan-aturan yang berlaku di tempat asal teman bicara kita, suapaya terhindar dari kesalahpahaman yang merugikan.
Sumber :
Ira Purwitasari, MODUL KOMUNIKAS ANTARBUDAYA
http://afand.abatasa.com/post/detail/6923/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli
Ira Purwitasari, MODUL KOMUNIKAS ANTARBUDAYA
http://afand.abatasa.com/post/detail/6923/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Currently have 0 komentar: