Tuesday, April 9, 2013
Matahari di siang itu sangat terik. Tapi
Idan, bocah sopan, pemalu, dan semangat ini tak lelah menyusuri sepanjang jalan
kantor pos Banda-Riau Junction di kota Bandung. Ia gendong tumpukan cobek yang
masih belum terjual mengikuti hembusan nafas. Walaupun penghasilan yang ia
dapat tidak tentu, kadang sehari hanya bisa sampai dua tiga cobek yang terjual
atau seratus hingga seratus lima puluh ribu, ia senang bisa membantu ibu
mencukupi belanja kebutuhan keluarga.
Sedangkan Sabtu dan Minggu adalah masa –
masa anak seusianya menghabiskan liburan bermain dengan teman – teman, tapi
tidak dengan Idan. Ia lewatkan masa itu begitu saja dengan membantu ayahnya
yang seorang penjual cobek.
Menjadi penjual cobek, tentu bukan
kehendak Idan. Tapi ia tidak pernah mengeluh dan tetap tegar menjalani
hidupnya. Karena demi membantu orang tua dan agar tetap bisa bersekolah, dia
lakukan pekerjaan yang sudah ia lakoni selama enam tahun sejak di bangku kelas
satu SD hingga kelas satu SMP ini dengan penuh semangat.
Padalah anak ke dua dari tiga bersaudara
ini pernah mengalami kecelakaan semasa ia duduk di kelas dua SD ketika sedang
berjualan cobek. Namun itu tidak menyurutkan semangatnya tuk berjualan. Udara
panas dan dingin di jadikan teman pengusir lelah.
“Aku pengen jadi pemain sepak bola
profesional kayak Bambang Pamungkas” katanya dengan tegas mengungkapkan cita –
cita yang ingin ia gapai suatu hari nanti. Berangkat naik kereta jam 12.00
siang hingga 20.00 malam ia jalani dengan semangat berjualan Cobek.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Currently have 0 komentar: