Catatan Kuliah Jurnalistik Online

Powered by Blogger.

Saturday, September 22, 2012

Jurnalisme Sastrawi

Posted by Unknown | Saturday, September 22, 2012 | Category: |

Jurnalisme Sastrawi
Dalam dunia jurnalistik pasti kita sering mendengar berbagai istilah model penulisan jurnalistik seperti feature, artikel, dll. Tapi apakah kalian tahu ada model penulisan jurnalistik yang mungkin masih asing ( sebagian orang ) dan di anggap baru di Indonesia yaitu Jurnalism Literary atau Jurnalisme Sastrawi. Namun sesungguhnya model penulisan semacam ini telah ada dan berkembang di mancanegara sejak era 60-an. Hal itu dimulai dengan sebuah laporan jurnalistik dari seorang jurnalis berkebangsaan Amerika dari media The New Yorker, John Hersey.
Ia menulis laporan tentang ledakan bom di Kota Hiroshima dengan judul “Hiroshima”. Tulisannya tersebut dianggap sebagai sebuahh karya jurnalisme sastrawi pertama dan selalu menjadi referensi dalam setiap pelatihan jurnalisme seperti ini. Dalam proses penulisan laporan tersebut, ia berkunjung ke Jepang selama tiga minggu dan mewawancarai para korban bom atom di kota Hiroshima, lalu semua dokumentasi tersebut ia kumpulkan dengan teknik reportase seperti biasanya tapi ditulis dengan gaya sastra ; naratif.
Di Indonesia sendiri, jurnal seperti ini baru bertumbuh pada era 90-an, namun Tempo di era 70-an telah menggunakan gaya penulisan semacam itu. Sebuah sumber menyatakan bahwa istilah jurnalisme sastrawi dianggap tidak relevan dalam mempresentasikan sebuah metode jurnalistik yang berpadu dengan muatan sastra.

Secara singkat, jurnal ini merupakan sebuah cara dalam menyampaikan berita dengan memadukan antara metode jurnalistik ( non-fiksi ) dengan metode sastra ( fiksi ). Karena itu, jurnalisme ini bukan karya fiksi, hanya cara penyampaiannya yang menggunakan karya fiksi. Karya jurnalisme ini tetap merupakan sebuah karya jurnalistik, tapi ditulis secara lebih mendalam daripada karya jurnalistik pada umumnya sebagaimana sebuah novel ( karya sastra ).

Hubungan Jurnalisme Sastrawi dengan Feature
Kita pasti tahu feature secara singkat merupakan sebuah metode penulisan berita dengan gaya “bercerita” atau fiksi. Jurnalisme sastrawi pun memiliki makna yang serupa. Keduanya sama -  sama tetap menggunakan teknik penulisan jurnalistik dasar     ( 5W+1H ), dan dihiasi dengan keterampilan menulis narasi sebagaimana yang terdapat dalam sebuah cerpen atau novel.

Keduanya memang memiliki banyak kesamaan daripada perbedaan, bedanya hanya satu; jurnal ini lebih mendetail daripada feature, sehingga membutuhkan waktu yang lama, keterampilan menulis fiksi yang baik, serta membutuhkan kertas yang lebih banyak dari feature. Jika diibaratkan, Feature dengan Jurnalisme Sastrawi Ibarat cerpen dengan novel.

Metode Penulisan Jurnalisme Sastrawi
Seperti yang diterangkan diatas, bahwa jurnalisme sastrawi berdasarkan pada ( 5W+1H ) namun di interpretasikan secara lebih meluas dan mendalam sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih detail dan kuat.

Menurut Robert Vare, seorang jurnalis dari media The New Yorker, mengatakan ada tujuh pertimbangan untuk menulis narasi di dalam sebuah jurnalisme sastrawi maupun bukan, sebagai berikut :

1.      Fakta, Tidak Puitis, dan Verifikasi

Isi dari setiap tulisan merupakan fakta hasil liputan yang mendalam dengan menyajikan begitu banyak data dan keterangan dari narasumber. Penulis benar-benar bekerja keras dalam menggali berita. Penulis akan kaya akan hal-hal detail yang berserakan di sana sini dan terangkai dengan baik dalam jalinan kisah. Mulai dari hal detail mengenai topik yang dikisahkan juga mengenai data lainnya yang mendukung kejelasan pembahasan topik utama.
Ini memperlihatkan betapa laporan yang dibuat penulis begitu mendalam dan tidak main-main. Meskipun padat data, setiap tulisan di dalam buku ini sama sekali tidak menyulitkan pembaca untuk mengerti isi tulisan dan bahkan mampu menikmatinya. Dan dalam penyajiannya, tidak seperti laporan liputan atau berita pada umumnya. Gaya penulisannya menyerupai pola penulisan cerita fiksi pada novel dan tidak terlalu puitis seperti puisi.

Meskipun disajikan dengan jumlah halaman yang tidak sedikit, namun setiap paragrafnya merupakan hasil wawancara dan pengamatan yang jeli akan tempat dan segala hal yang berhubungan dengan topik utama tulisan.

2.      Terdapat Konflik
Tentu saja setiap laporan harus mengetengahkan konflik utama yang menjadi fokus tulisan. Konfliknya pun bisa bermacam-macam.

3.      Terdapat Karakter
Setiap tulisan bisa saja menghadirkan lebih dari satu karakter. Tidak hanya dikisahkan dengan disebut nama satu-dua kali saja, penulis mengisahkan siapa si karakter bahkan memberikan gambaran bagaimana rupa atau perilaku si karakter dengan cukup jelas. Seperti penggambaran tokoh novel pada umumnya. Setiap karakter adalah pelaku dari kisah yang disampaikan. Penulis mampu menghadirkan berbagai karakter yang terkait dengan konflik dengan jelas.

4.      Memiliki Akses Terhadap Karakter
Jika penulis memiliki akses terhadap karakter tentu akan memudahkan proses observasi dalam menyiapkan sebuah tulisan. Namun ada juga beberapa penulis yang menyatakan bahwa pada awalnya mereka tidak memiliki akses menuju karakter. Namun akhirnya mereka dapat menemukan cara untuk mendekati karakter. Jadi ini mengindikasikan bahwa akses bisa diusahakan. Walaupun memiliki akses terhadap karakter, penulis harus tetap di posisi netral sebagai orang ke tiga. 

5.      Terdapat Emosi
Hasil laporan ber-genre jurnalisme sastrawi biasanya mampu membuat pembacanya terhanyut dan membayangkan peristiwa yang dikisahkan. Hal ini dikarenakan terdapat emosi di setiap kisah yang diceritakan dan dibantu oleh penyusunan kata yang baik tentunya. Meskipun masing-masing laporan menyajikan berbagai kisah yang berbeda dengan tema yang tak sama pula, setiap kisah memiliki emosi tersendiri yang mampu menggugah si pembaca. 

6.      Merupakan Perjalanan Waktu
Penulis dapat berkisah dengan alur yang beraneka ragam. Ada yang mengurai kronologis kejadian dengan runut, ada yang flash back ada pula yang menggunakan alur bolak balik. Seakan pada genre Jurnalisme Sastrawi ini tidak ada aturan yang baku akan sistem penulisan. Penulisan benar-benar membebaskan si penulis berkreasi sesuai selera. Asal tetap berpegang pada prinsip Jurnalisme. Namun nyatanya para penulis mampu menghasilkan tulisan dengan baik tanpa membuat pembaca bingung apapun jenis alurnya.

7.      Mengandung Unsur Kebaruan
Pada saat diturunkannya berbagai laporan ini (pada masanya masing-masing) memang merupakan hal yang baru. Namun meskipun bukan hal yang aktual, jika belum pernah ada tulisan yang begitu mendalam tentang kisah yang dituturkan maka dianggap memiliki unsur kebaruan.


Currently have 4 komentar:

  1. tugas posting jurnalistik online malah jurnalisme sastrawi....

  2. This comment has been removed by the author.

  3. mohon maaf sebelumnya kang romel,,, mengenai tugasnyanya waktu itu saya kurang menyimak,,saya kira bebas,,,,tapi bisa kang romel lihat, postingan artikelnya itu dibuat jauh-jauh hari....sebelum ada tugas dari kang Romel....jadi saya kira tidak menjadi masalah....nanti saya akan perbaiki lagi tugasnya dan akan lebih menyimak lagi...

    Hatur Nuhun

  4. gan thanks bngt nih post ni materi...ane dah nyari2 buat bahan tugas nih....by the way boleh ea ane copy materinya..he...he...

    makasih gan....


Leave a Reply